Alhamdulilladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin-nusur.. Membuka hari yang akan kita lalui setelah istirahat dari kelelahan sehari-hari. Berwudhu, kemudian shalat shubuh, kemudian tilawah sejenak, dilanjutkan dengan menyalakan “kotak ajaib” panggilannya.
Miris, apa yang ia pertama saksikan di kotak ajaib tu, berita tawuran antar sma. Ia pindahkan channel, berita pasangan siswa sma dan smp berhubungan intim. Lagi, ia pindahkan channel, lebih parah, tawuran antar smp yang kini ia saksikan.
Apa gerangan yang menyebabkan betapa buruknya moral remaja masa kini. Mungkin karena media massa, televisi, internet yang bisa diakses dengan mudah yang menyebabkan mereka meniru apa yang mereka dapat dari itu semua. Atau mungkin, satu hal yang paling penting, paling dasar, sebelum mereka dapat terpengaruh oleh hal yang tidak semestinya tersebut. Yaitu, pendidikan keluarga.
Pendidikan keluarga yang baik yang mencontohkan serta menjuruskan anak kepada kesolehan tentulah anak itu akan menjadi anak sholeh sesuai pendidikan yang ia dapat dari orang tuanya. Dan sebaliknya, pendidikan keluarga yang tidak baik, kutang atau bahkan tidak mencontohkan serta tidak menjuruskan anak kepada kesholehan, akan menjadikan anak yang kurang atau bahkan tidak sholeh karena pendidikan dari orang tua yang ia dapat semasa usia didikan orangtua.
Lantas bagaimanakah cara mendidik anak agar menjadi sholeh sholehah tersebut? Ada, yaitu cara pendidikan keluarga Imran.
Firman Allah SWT.
35. اِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّي اِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
36. فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ اِنِّي وَضَعْتُهَا اُنْثَى وَ اللهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَ لَيْسَ الذَّكَرُ كَا الْاُنْثَى وَ اِنِّيْ سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَ اِنِّيْ اُعِيْذُهَا بِكَ وَ ذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
37. فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُوْلٍ حَسَنٍ وَ اَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَ كَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ اَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ اِنَّ اللهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ( ال عمران: 35-37)
35. (ingatlah) ketika istri ‘Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernadzar kepadamu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak ) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nadzar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
36. Maka ketika melahirkannya, dia berkata “Ya Tuhan, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal Allah lebih tau apa yang ia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. “Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) syetan yang terkutuk.”
37. “Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?.” Dia (Maryam) menjawab, “ itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah member rezeki kepada yang ia kehendaki tanpa perhitungan.”
(QS. Ali-Imran:35-37)
Dari ayat tadi dapat disarikan, beberapa point pendidikan bagaimana Imran mendidik keluarganya.
1. Cita-citakan anak sebagai anak yang sholeh.
…. اِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِيْ مُحَرَّرًا ….
Langkah pertama ini tentulah poin penting dalam usaha pembentukan pribadi anak yang sholeh. Mencita-citakan anak yang sholeh akan memotivasi bagi si orang tua itu sendiri untuk berusaha bagaimanapun caranya agar anak menjadi sholeh.
Dalam redaksi ayat di atas istri maryam mencita-citakan bakal anak yang dikandungnya kelak menjadi muharrar. Muharrar secara bahasa berarti orang yang dimerdekakan, merupakan isim maf’ul dari bentukan kata harrarar
حَرَّرَ – يُحَرِّرُ – تَحْرِيْرًا – مُحَرِّرٌ – مُحَرَّرٌ
Sedangkan secara istilahnya dapat diartikan orang yang dimerdekakan dari urusan kesibukan-kesibukan dunia. Maka ia orang yang fokus hidup sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah SWT.
2. Berilah anak nama yang baik
.... وَ اِنِّيْ سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ .....
Nama adalah cita-cita, begitu kata orang. Namun ada juga yang berkata apalah arti sebuah nama. Manakah yang benar? Tentu saja kita memilih apa yang telah Rasul contohkan:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ ابْنَةَ لِعُمَرِ كَانَتْ يَقُوْلُ لَهَا: عَاصِيَةٌ فَسَمَّاهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ جَمِيْلَةٌ. (مسلم)
Dari Ibnu Umar r.a. katanya: “Anak perempuan ‘Umar bernama ‘Ashiyah (si durhaka). Maka ditukar oleh Rasulullah saw. Dengan Jamilah (si cantik). (HR. Muslim)
Maka jelaslah Rasulullah mencontohkan demikian. Apalah mengikuti gaya barat yang tak peduli dengan nama. Ingatlah nama adalah cita-cita!
Dalam ayat di atas istri Imran memberi nama bagi anaknya dengan nama Maryam. Maryam ini mempunyai arti Taat. Cita-cita anak menjadi anak yang taat tentu cita-cita yang baik kan?
Bersambung ke bagian 2


Post a Comment