Seorang ayah terbaring di atas tempat tidurnya. Di hadapannya tampak puter-puteranya duduk mengelilingi tempat tidurnya itu. Ayah itu sedang berwashiat. Dan anak-anaknya duduk kesemuanya mendengarkan.
Sang ayah berkehendah agar puteranya tetap selamat sepeninggalnya. Dan oleh karena itu sebelum melepaskan nafasnya yang terakhir ia hendak berwashiat.
Dalam washiat sang ayah antara lain terdengar pesan yang berbunyi:
“Wahai anakku! Aku tinggalkan padamu sekalian kebun. Kebun itu telah kupagari sekelilingnya dengan pohon-pohon perdu. Aku pesankan pada kalian, jagalah pohon perdu itu sebaik-baiknya! Airi dia secukupnya, jangan biarkan mati dan musnah!”
Puteranya semua mendengarkan. Dan tak lama sesudah itu berpulang sang ayah meninggalkan dunia yang fana ini.
Rupanya setelah lama sang ayah berpulang, putera-puteranya lupa akan pesan ayah perihal pohon perdu itu. Atau mungkin, mereka menganggap terlalu aneh pesan itu, sebab mengapa pohon itu mesti dipelihara sedang tanaman-tanaman lainnya yang berada dalam kebun itu tidak dipesankan apa-apa? Mungkin ayah kita khilaf! Fikir mereka. Tambahan pula, zaman telah berubah, tak pantas lagi membuat pagar semacam itu.
Maka, dibabatlah pagar itu habis-habis, mereka buang dengan tak menghiraukan pesan terakhir sang ayah.
Akan tetapi, tak lama setelah pagar itu hilang, timbullah persoalan yang tidak tersangka-sangka.
Setelah pohon itu dibabat, dan pohon mereka kehilangan pagarnya, kebun itu menjadi tidak aman. Sebab, selain binatang ternak ternak suka meranjah kebun itu dengan bebasnya, binatang yang tidak lazim terdapat pada masa-masa yang sekarang sudah berkeliaran di kebun itu. Ular-ular berbisa, kalajengking, dan binatan-binatang berbisa lainnya tak habis-habisnya berkeliaran siang malam. Tidak sedikit orang yang tinggal sekeliling kebun itu telah menjadi korban di samping anak dan isterinya sendiri jadi korban pertamanya.
Pada saat itulah baru mereka tersadar dan mengerti akan washiat ayah mereka. Sesungguhnya tanaman pagar itu mempunyai khasiat yang aneh sekali. Tanaman pagar itu tak mampu dilalui binatang semacam ular serta binatang berbisa lainnya.
Menyesallah mereka kini!
1390 tahun yang lalu, sesaat sebelum Raulullah wafat beliau berwahiat kepada ummatnya demi untuk keselamatan mereka. Dalam washiat itu beliau berpesan:
اَلصَّلَاةُ اَلصَّلَاةُ, اِنَّكُمْ لَا تَزَالُوْانَ مُتَمَاسِكِيْنَ ماَ صَلَّيْتُمْ جَمِيْعًا. اَلصَّلَاةُ اَلصَّلَاةُ.
“Perhatikan shalat! Perhatikan shalat! Sesungguhnya kalian akan tetap merupakan umat padu serta (hidup dalam persaudaraan yang) erat. Selama kalian shalat semuanya! Perhatikanlah shalat! Perhatikanlah shalat!”
كَانَ يَوْصِي بِهِمَا حَتَّى مَاتَ وَ هُوَ يَقُوْلُ: اَلصَّلَاةُ اَلصَّلَاةُ
“demikianlah Raulullah mewashiatkan shalat sehingga beliau wafat, dan tak lepas-lepas berpesan: “Perhatikan shalat! Perhatikan shalat!”.
Alangkah pentingnya memelihara dan mendirikan shalat, Rasulullah mewashiatkannya hingga akhir hayatnya, demi keselamatan dan keutuhan ummatNya.
Tiadalah perkara lain terutama mendirikan shalat. Shalat menjadi ukuran dan oenahan iman seseorang. “Qad aflaha ‘lMu’minuna’lLadzina hum fi shalatihim khasyi’unn!” Telah berbahagia orang beriman, yakni yang (memelihara dengan) khusyu’ dalam shalat mereka!”
-Qs.Al-Mu’minun: 1-
Dan dalam hubungan ini Khalifah Umar hanya menaruh kepercayaan terhadap para pemimpin Islam yang betul-betul memelihara shalat dengan tertib.
Khalifah Umar menyatakan dalam surat edarannya:
اِنْ اَهَمَّ اُمُوْرِكُمْ عِنْدِيْ الصَّلَاةُ مَنْ حَفِظَهَا اَوْ حَافَظَ عَلَيْهَا, حَفِظَ دِيْنَهُ, وَ مَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِمَا سِوَاهَا اَضْيَعُ.
“Sesungguhnya urusan kalian yang paling penting bagiku ialah shalat. Barangsiapa yang memeliharanya atau mendirikannya dengan tepat, tentu ia akan menjaga agamanya. Dan barangsiapa yang melalaikan, menyia-nyiakan shalat, maka dalam segala urusan lain akan lebih lalai pula!”
Adalah tepat ucapan chalifah Umar itu. Betapa tidak! Bila terhadap tuhan berani maksiat, berkhianat dan durhaka, apalagi sesama makhluqnya! Tentu lebih-lebih dari itu!
Rasulullah bersabda:
مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوْرًا وَ بُرْهَانًا وَ نَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَ مَنْ لَمْ يُحَافِظُ عَلَيْهَا لَمْ تَكُنْ لَهُ نُوْرًا وَ لَا بُرْهَانًا وَ لَا نَجَاةً وَ كَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُوْنَ وَ فِرْعَوْنَ وَ هَامَانَ وَ اُبَيِّ بْنِ خَلْفٍ
“Barangsiapa yang mendirikan shalat dengan tepat, baginya akan diberi cahaya dan penerangan dan keselamatan pada hari kiamat. Dan barangsiapa tidak mendirikan shalat dengan sebaik-baiknya, baginya tidak ada cahaya, penerangan dan keselamatan. Dan pada hari Kiamat bersama-sama dengan Qarun, Fir’aun,, Haman dan Ubai bin Khalaf!”
-HR. Ahmad dengan sanad yang shahih-
Untuk berjuang, bekerja membangun masyarakat dan negara, perlu cahaya. Dengan cahaya itu keadilan menjafi terang dan jelas, sehingga dapat melihat segala petunjuk jalan (burhan). Dan dengan petunjuk jalan itu, akan ditentukan arah keselamatan dan kebahagiaan.
Orang yang meninggalkan shalat disebabkan sibuk menumpuk kekayaan, akan disederajatkan dengan Qarun.
Orang yang meninggalkan shalat karena sibuk mengurus kedudukannya yang tinggi, kekuasaan dan wewenang yang luas, ia akan disekandangkan dengan Fir’aun.
Orang yang meninggalkan shalat sebab sibuk menghadapi perniagaannya, ia akna diserumahkan dengan saudagar besar Jahiliyyah, Ubai bin Khalaf!
Dalam hadits diterangkan:
اَلصَّلَاةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِيْنَ
“Shalat itu mi’rajnya seorang beriman”.
Bersambung ke bagian 2


Post a Comment