PAGAR PENGAMAN (2)

Dengan shalat itulah seorang mukmin dapat meningkatkan derajatnya, seumpama ia naik tangga menuju kemajuan lahir bathin!
Dan oleh karena itu, orang yang tak memelihara tangga itu tidak mungkin dapat naik, malahan kebalikannya ia itu akan terjerembab ke dasar neraka terendah!
Dengan shalat itu, mausia memelihara kebersihan dirinya sember kesehatan lahir bathin!
SEKILAS banyaknya shalat itu tidak seberapa. Tapi bila diselami, betapa pentingnya shalat itu, seumpama pagar tanaman dalam cerita misal di atas!
Sesungguhnya, shalat adalah pagar sebagi batas-batas antara mukmin dan kafir, sebagaimana dinyatakan dalam hadits:
بَيْنَ الْعَبْدِ وَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ
“Batas antara seorang hamba dengan kekufuran ialah meninggalkan shalat!”
-HR. Muslim dari Jabir-
Kemudian dinyatakan pula:
بَيِّنَ الْكُفْرِ وَ الْإِيْمَانِ تَرْكُ الصَّلَاةِ
“Garis pembatas antara kufur dan iman ialah meninggalkan shalat”
-HR. At-Tirmidzi-
Bila pagar itu tidak ada, betapa kita akan menyelamatkan kebun kita?
Shalat adalah pagar. Ia pagar yang memagari jiwa agar syaithan tidak meranjah diri kita! Shalatlah yang mengusir fahsya dan munkar, kejahatan dan kemunkaran.
Shalat mempunyai daya kemampuan untuk menghindarkan orang daripada keinginan-keinginan jahat, serta menjauhkan diri dari kejahatan dan kemunkaran.
Allah berfirman:
اُتْلُ مَا اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَ اَقِمِ الصَّلَوةَ اَنَّ الصَّلَوةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ  وَ لَذِكْرِ اللهِ اَكْبَرُ  وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ (العنكبوت: 45)
“Bacalah apa-apa yang diwahyukan Allah padamu dari Al-Quran. Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu berkemampuan untuk menjauhkan diri dari kejahatan dan kemunkaran. Dan sesungguhnya dzikir akan Allah itu ialah sebesar-besarnya (kekuatan yang mendorong untuk beramal baik dan sekuat-kuat pagar yang memisahkan diri melakukan perbuatan yang salah), dan Allah itu tahu apa-apa yang kalian perbuat”.
-Al-Ankabut: 45-
NAMUN demikian, tidak sembarang pagar dapat dijadikan pemisah dan batas yang kuat kukuh tidak mudah rebah dan runtuh. Maka demikian pula halnya shalat mempunyai daya dan kemampuan serta berjiwa, sebagai dinyatakan dalam hadits:
اِنَّ الْمُصَلِّيْنَ كَثِيْرٌ وَ الْمُقِيْمُقِيْمِيْنَ لَهَا قَلِيْلٌ
“Sesungguhnya orang yang shalat itu banyak, tapi yang MENDIRIKAN shalat itu sedikit”.
Nabi Ibrahim, sekalipun beliau seorang Nabi, tapi beliau merasa perlu berdu’a, mohon bantuan agar dapat MENDIRIKAN shalat:
رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِمَ الصَّلَوةِ وَ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ
“Wahai tuhanku! Jadikanlah daku orang yang mampu mendirikan shalat dan demikian pula keturunanku!”
-QS .Ibrahim: 40-
Jelaslah, antara “bershalat” dan “mendirikan shalat”, tampak perbedaan arti, sehingga untuk mampu “mendirikan shalat” Nabi Ibrahim memerlukan bantuan langsung dari Tuhan.
Sebagaimana orang mendirikan rumah, tak dapat diabaikan walau sebuah paku atau ukuran hanya beberapa sentimeter. Maka mendirikan shalat pun harus cermat hingga segi-segi terkecil yang renik.
Shalat benar-benar didirikan, bukan hanya berkesan pada saat shalat saja, tapi mesti terbukti pada saat-saat diluar shalat itu sendiri, yakni dalam rupa akhlaq dan amal shalih!
Ibnu Mas’ud menerangkan:
مَنْ لَمْ تَأْمُرْهُ صَلَاتُهُ بِا الْمَعْرُوْفِ وَ لَمْ تَنْهَهُ عَنِ الْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدُ مِنَ اللهَ اِلَّا بُعْدًا
“Barangsiapa yang shalatnya tidak mampu mendorong dirinya untuk berbuat kebaikan dan menghindarkan dirinya dari kemunkaran, ia tidak akan mendapat tambahan apa-apa dari Allah kecuali semakin jauh (dari Allah)”.
Kemudian firman Allah:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ اَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَ اتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ بَلْقَوْرَ غَيًّا
“Kemudian berganti sesudah mereka suatu angkatan (keturunan) yang melalaikan shalat dan (oleh karena itu mereka ) menikuti kehendak syahawatnya, maka mereka akan menemui kebinasaan”.
-QS.  Maryam: 59-
Bila pagar telah rebah, yang jadi korban bukan hanya saja orang lain, tapi juga diri sendiri, anak dan isteri sendiri. Rumah tangga menjadi kemelut, tidak merupakan rumah tangga Islam lagi. Ia tidak lagi menjadi tempat shalat tempat bertambahnya rasa bersaudara dan sejama’ah.
Tidak akan terdengar lagi bacaan Quran yang menggugah hati, menyedarkan diri. Anak isteri akan berubah akhlaq, tabi’at, keinginan dan kesenangannya. Dan islam tidaklah lain, kecuali sekedar papan nama tanpa makna, kulit tanpa isi!
Oleh karena itu:
وَ اَقِيْمُوا الصَّلَاةَ وَ لَا تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
“Dan dirikanlah shalat, dan janganlah kalian menjadi sebagian dari kaum musyrikin”
-QS. Ar-Rum: 31-
DIRIKANLAH!
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dikutip dari majalah Risalah No. 99 th.X
 1391 H/ 1971 M
Rubrik “Karikatur” hal. 167-172.
Dengan sedikit perubahan dari ejaan tempo dulu ke ejaan modern untuk memudahkan pembaca.

Post a Comment