Saat kita melangkahkan kedua kaki kita ke luar rumah, tentu kita akan melihat begitu luas dunia di luar sana. Kita langkahkan lagi kaki kita ke halaman rumah, terlihat indah rumput hijau di luar. Lebih jauh lagi kita melangkah, ke jalan raya, kita akan menemukan orang-orang berjalan maupun berkendara untuk menyelesaikan urusan mereka. Ada pria, ada wanita. Akan tetapi, hey, wanita itu tidak memakai kerudung di luar sana. Saat ditanya pada ia, “apakah anda islam?” Jawabnya “ ya, saya islam”. Maka hati pun kini penuh dengan tanda tanya, bukankah seorang muslimah menutup auratnya? Tapi mengapa wanita tadi mengaku islam namun ia tidak memakai kerudung untuk menutupi auratnya? Belum usai tanda tanya terjawab, sepasang lelaki dan wanita melewat di hadapanku dengan kedua tangan mereka saling berpegangan, si wanita itu pun tak berkerudung. Tanpa kusadari bibirku berdecak melihat keadaan mereka. Belum usai bibirku berdecak, melewat lagi sepasang muda mudi di hadapanku dengan kedua tangan mereka bergandengan pula. Tapi hey, aku melihat ada yang janggal dengan apa yang aku lihat. Wanita itu berkerudung! Mungkin mereka pasangan suami istri, husnudzan dalam hati. Namun, cekal sisi lain hatiku. mana mungkin mereka pasangan suami isteri sedangkan mereka masih seumuran kls 1 sma? Astaghfirullahal’adziem..
Kenyataan di atas memang bukan hal yang tidak lazim lagi di zaman ini, kita dapat dengan mudahnya menemukan pemandangan seperti tadi dengan melangkahkan kaki kita ke pinggir jalan dekat rumah kita.
Namun iya-kah, kenyataan yang bukan hal yang tidak lazim ini menjadikannya hal yang lazim di pandangan hukum agama yang kita anut dan mereka akui menganutnya?
Allah SWT berfirman dalam salah satu ayatnya:
وَ قُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَ يَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَ لَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلَيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوْبِهِنَّ وَ لَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتَهُنَّ اَوْ آبَاءِهِنَّ اَوْ آبَاءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاءِهِنَّ اَوْ اَبْنَاءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِي اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِي اِخْوَاتِهِنَّ اَوْ تِسَاءِهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانِهِنَّ اَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرَ اُولِي الْاَرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ وَ تُوْبُوْا اِلَى اللهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ (النور: 31)
"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau atau putra-puta saudara perempuan mereka, atau perempuan (sesama islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak memiliki keinginan (terhadap perempuan), anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan, dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31)"
Maka tiada keraguan lagi lah bagi yang mereka yang masih memperlihatkan rambut hitam indahnya agar segera menutupnya dengan kerudugnya hingga ke dadanya. Begitu pula bagi yang berkerudung namun masih memperlihatkan dadanya, segeralah untuk menutupnya seperti yang Allah perintahkan. Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung. Jika kita tak bertaubat, lantas apa yang kita dapat tidak lain dan tidak bukan adalah ketidak untungan atau rugi. Maka siapakah di sekalian kolong langit ini yang ingin rugi? Tentu tidak seorang pun ingin rugi.
Kemudian kasus sepasang lelaki dan wanita yang bukan mahramnya, yang saling berpegangan tanpa merasa berdosa sedikitpun. Bukankah dalam salah satu riwayatnya Rasulullah pernah menyatakan dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Ma’qil bin Yasar :
Bersambung ke bagian 2


Post a Comment