Sang tamu merenungkan bacaan Quran yang didengarnya. Berkali-kali kepalanya terangguk-angguk tanpa disadari, dan air matanya mengalir karena terharu.
“Kami hidup di Badiyah”, terperanjat sang tamu mendengar sang tuan rumah. Ia beru tersaadar bahwa bacaan Al-Quran telah lama terhenti, tapi fikirannya masih tetap terikat merenungi isi dan maknanya, ia pun dengan sedikit tersipu-sipu memperbaiki letak duduknya.
“Kami sungguh jauh dari kota”. Kata tuan rumah selanjutnya, “Tak dapat kami menjamu tamu dengan sempurna. Hanya inilah yang dapat kami hidangkan. Ma’af”, seraya ia menghidangkan secawan susu kambing di hadapan sang tamu. “Susu ini pun kami sendiri yang memerahnya. Bukan dapat beli. Silakanlah cicipi!”
“Alhamdullah!” sahut sang tamu seraya mengambil cawan susu yang dihidangkan tuan rumah. “Sungguh bauk sekali penerimaan saudara terhadap saya. Saya benar-benar mendapat kemuliaan. Alangkah besar rasa bahagia menjadi tamu saudara>” kata tamu selanjutnya, seraya mengucap Bismillah dan meminum susu itu.
“Sungguh ladzat susu ini!” puji sang tamu.
“Di manapun susu kambing sama saja.”, sahut tuan rumah. “Hanya hati orang yang meminumnya berbeda. Bila diminum dengan rasa syukur tentu akan terasa nikmat. Sebab segala sesuatu dia atas dunia tidak akan menemui kepuasan bila dihadapi tanpa iman”.
“Ya, memang demikian sebenarnya”, kata sang tamu “tapi susu ini rasanya memang lebih gurih dibandingkan dengan susu yang biasa kami minum di kota”.
“Syukurlah bila demikian, Allah telah melipatgandakan kenikmatan bagi hambaNya!”.
“Berapa banyakkan susu yang terperah setiap hari?” tanya sang tamu.
“Ya, kira-kira sepuluh hingga dua puluh litersehari”, djawab tuan rumah menjelaskan.
“Berapa banyakkan perongkosan yang dikeluarkan!?” tanya tamu itu selanjutnya.
“Boleh dikatakan tak ada ongkos-ongkos yang mesti dikeluarkan. Sebab, rumput tidak usah dibeli. Tambahan pula kami yang menggembalakannya. Kami tidak mengupah orang”, tuan rumah menjelaskan tanpa ragu-ragu serta terus terang, tak ada yang disembunyikan.
“Alangkah besar keuntungan petani di sini”, fikir sang tamu dalam hatinya. “Bila demikian kentungan yang diperoleh penduduk di sini, alangkah rendahnya pajak yang ditarik dari anak negeri ini. Seharusnya pajak itu dinaikkan. Terlalu besar keuntungan yang diperoleh mereka”
“Tapi”, sambut Aminah, yang sejak lama terdiam mendengarkan percakapan ayahnya dengan tamu itu, “kesemua keuntungan yang kita peroleh itu ialah berkah Allah juga. Kita tidak dapat membuat susu dari rumput. Dan kata ibu, berkah Allah itu akan hilang bila raja berbuat dzhalim atau bermaksud melakukan kedzhaliman, Idza dzhalama ‘lMaliku au arada an yazdzhlima muhijjati ‘lbarakatu!”
Mendengar ucapan anak gadis itu, sang tamu terperanjat. Ia merasa tersindir. Tahukah anak itu akan suara dan niat hatinya? Alangkah ia lancang dan berani berkata seperti itu!
“Apakah engkau kenal akan rajamu itu?”
“Tidak. Belum pernah kami bertemu. Tidak juga ayah!” jawabnya.
“Pernah raja berkunjung ke kampung ini?”
“Entahlah. Kami belum pernah melihat atau mendengar akan kedatangan raja kemari. Kampung ini sangat jauh dan terpencil dari ibu kota negeri kita ini!”
Pada malam itu sang tamu tidur dengan penuh fikiran. Tidak putus-putus fikirannya memikirkan rasa nikmat yang diperolehnya selama bertamu itu. Betapa nikmat hidup dalam suasana iman ini! Betapa bahagianya orang yang hidup sederhana seperti petani ini! Benarlah kesedaerhanaan itu bukti akan tadanya kepalsuan hidup. Dan itu pulalah bantuan yang sangat utama bagi keamanan negeri. Bila rakyat hidup dengan beragama sebaik-baiknya tak ada lah yang patut dicemaskan negara! Sebab, betapapun kuasanya seorang raja memerintah anak negeri, ia tetap manusia juga sebagai anak negeri itu! Tak lebih!
Sang tamu terus berfikir menimang-nimang suara hatinya semalam itu.........!
Lepas shalat shubuh, tuan rumah sudah sibuk menyiapkan hidangan untuk tamunya. Dan kesibukannya terhenti sebentar seketika Aminah berseru “Ayah, cepat kemari!”. Ia segera menemui anak gadisnya yang sedang sibuk memerah kambing untuk diambil susunya. “Lihat! Tidak setetespun kambing ini mengeluarkan susu. Barangkali raja kita berbuat ddhalim!”, sambung anak gadis itu mendakwa rajanya.
Mendengar tuduhan Aminah, sang tamu terperanjaat, Ia terkejut mendengar peristiwa itu terjadi, Benar juga ucapan si anak itu: Berkah menjadi hilang!
Oleh karena itu, ia segera keluar turut menemui Aminah, seraya berkata: “Tidak, Raja tidak berbuat dzhalim, Bila benar ia berbuat, aku akan berusaha menemuinya di istana!”
“Apakah anda kenal baik dengan sang raja kita?” tanya Aminah,
“Ya”, dijawab sang tamu.
“Saya mengenal beliau dengan baik. Saya akan pesankan kepada beliau agar sekali-kali jangan berbuat dzhalim!”
Dan sungguh ajaib! Selesai sang tamu berbicara, kemudian Aminah mencoba untuk kembali memerah kambingnya, ternyata dengan mudahnya kambing itu mengeluarkan susu...
Betapa tidak! Bukankah sang raja telah membatalkan niat buruknya untuk memeras anak negeri dengan macam-macam pajak? Sedang baru niat saja, berkah hampir saja lenyap!
Dan tentu saja, sang raja segera mengurungkan niatnya itu, sebab sang tamu itu tak lain dan tak bukan: Dialah raja negeri itu sesungguhnya!
Zainah AR.
Dikutip dari majalah Risalah No. 99 th.X
1391 H/ 1971 M
Rubrik “RENUNGAN tarich” hal.161-166.
Dengan sedikit perubahan dari ejaan tempo dulu ke ejaan modern untuk memudahkan pembaca.


2 komentar
Yes... nice story
Replyna'am, syukran 'ala hamdika ya ustadz... :)
ReplyPost a Comment