Kata Ibu, Bila Raja Dzhalim, Berkah Hilang. (1)

Hari sudah senja. Sebentar lagi tirai malam akan jatuh menyelimuti alam dengan pekatnya. Matahari tak lama lagi akan lenyap di balik-balik bukit. Ia hanya akan meninggalkan teja merah di kaki-kaki langit.
Aminah, gadis kecil, anak seorang petani di kampung itu, berdiri di hadapan jendela rumahnya. Matanya memperhatikan sesuatu di hadapannya. Ia melihat seorang laki-laki. Siapakah gerangan dia? Aminah pun belum pernah melihat wajah laki-laki itu. Ia tidak mengenalinya.
“Sungguh asing bagiku”, bisiknya dalam hati, “Tapi jelas ia bukan orang badiyah, bukan orang kampung sini! Tentu ia tamu dari kota. Apakah gerangan dia datang kemari?”
Demikian Aminah bertanya-tanya dalam hatinya, seketika tampak laki-laki itu mengarahkan langkahnya ke arah rumahnya itu.
“tentu ia hendak bermalam kemari!”, fikirnya. Dan laki-laki itu pun sudah hampir ke halaman rumahnya. “Nah, tidak salah dugaanku. Memang ia hendak kemari. Ia hendak bertemu ayah tentu!”
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumussalam warahmatullah!”, dijawab Aminah seraya ia berjalan menuju pintu menyambut tamu dengan muka cerah serta hati yang tabah. Ia menyambutnya dengan baik, tanpa ragu-ragu dan kaku.
“Silakan masuk, pak! Sebentar Ayah pulang dari ladangnya. Ia biasa datang meghrib ini dan kami serumah biasa shalat berjama’ah bersama-sama!”.
Mendengar ucapan Aminah itu, sang tamu beragak mundur. “Ayah anak tak ada di rumah? Mengapa berani mempersilakan bapak ini masuk? Bukankah anak belum kenal akan bapak ini? Manakah ibumu?”
“Oh, ibu! Sudah lama beliau meninggalkan kai. Ibu telah meningggal! Ayo, masuklah pak! Silakan duduk!”. Seraya Aminah mepersilakan tamunya itu untuk duduk pada sebuah bangku di ruang tamu itu.
“ Apa anak tidak menaruh syak pada bapak? Baru kali ini bapak datang ke kampung ini, dan belum pernah kita berkenalan!”
“Mengapa saja mesti menaruh syak akan bapak? Ibu berkata pada saya, bahwa orang yang mengucapkan “Assalamu’alaikum”, seperti bapak tadi, mustahil ia itu orang jahat! Bukankah ia telah memanjatkan du’a agar kami di sini mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan”.
Mendengar jawaban Aminah, gadis sekecil itu, sang tamu sungguh tertarik hatinya. Ia kagum akan keyakinan gadis yang beru berumur belasan tahun itu. Gadis itu memang jauh dari dewasa, tapi ucapannya tak kurang dewasa dan matang.
Sang tamu merasa malu, bila seandainya ucapan salamnya tidak sesuai dengan perbuatan serta maksud kedatangan yang sebenarnya. Ia berusaha agar tidak terdapat perbuatan atau maksud-maksud dirinya yang bertentangan dengan kata-katanya itu. Ia berusaha agar benar-benar tindakan dan sikapnya sesuai dengan sangka baik anak gadis yang dihadapinya itu. Sebab, sesungguhnya kata-kata yang terkandung dalam salamnya itu sewajibnya dibuktikan dalam perbuatannya!
Demikian suara hati yang terdengar dari dalam kalbunya. Namun demikian ia masih juga hendak menguji keputihan gadis itu. “Apakah anak tidak merasa takut bapak masuk sedang anak sendirian di sini?”.
“Apa bapak kira saya menyendiri di rumah ini?”
“Apa anak tinggal bersama saudara atau kerabat di sini? Mana dia sekarang?”
“Oh, tidak. Saya anak tunggal. Ibu tidak punya anak lain selain saya. Tak ada juga punya kerabat tinggal serumah di sini!”
“Tapi, bukankah anak katakan tadi tidak tinggal di sini sendirian?”
“Ya, dan bapak pun tidak datang sendirian kemari. Baik saya ataupun bapak tidak pernah tinggal menyendiri di manapun jg berada. Saya dan bapak selamanya beserta dengan pengiring dan pengawal setia yang bergelar “Kiraman Katibin”, pencatat segala amal perbuatan kita. Dan kita mesti bertanggung jawab akan segala ‘amal perbuatan kita sepenuhnya kelak di akhirat!”.
Sang tamu menundukkan kepalanya mendengar keterangan sang anak gadis itu. Hatinya tergugah. Rasa Iman dan Islamnya semakin mendalam, terhunjam kuat-kuat dalam dadanya. Dalam hatinya ia berkata: “Pantaslah kampung ini senantiasa aman. Sebab, ucapan salam di kampung ini satu kata dengan perbuatan. Penghuninya bersih lahir batin. Mereka sehat semua! Mereka hidup berbahagia. Sebab, sungguh sempit ruang-gerak sang syaithan di kampung ini!”
“Salam yang diucapkan para warga kampung ini, sungguh salam sejati”, fikirnya. “bukan ucapan pemeo, bukan tipu muslihat, bukan pula sekedar ghalib ‘adat kebiasaan basa-basi saja! Tapi, benar-benar tergerak rasa iman akan Allah serta rasa cinta akan sesama makhluq!”
“Di kampung serupa ini, tidak akan terbit nafsu untuk melakukan suatu kemunkaran. Sebab, setiap orang merasa tidak terlepas dari pengawasan malaikat serta penelitian Tuhan. Setiap orang yakin akan ‘amal perbuatannya itu kelak kena hisab, tidak mungkin hilang dan senantiasa dicatat dengan sempurna!”
Demikianlah sang tamu berkata-kata dalam hatinya, merenungkan kesentausaan di kampung itu.
Tiba-tiba ia tersentak renungannya , demi terdengar suara gadis itu mengelu-elukan ayahnya di halaman.
“Ayah! Ada tamu! Seru Aminah.
“Alhamdulillah!” sahut sang ayah menyambut berita yang disampaikan puterinya. “Alhamdulillah kita dianugerahi Tuhan tamu. Tamu adalah rahmat. Ia memberikan kesempatan kepada kita untuk ber’amal!”.
Ucapan sang tuan rumah itu terdengar sang tamu. Dan sekalipun belum berhadapan, ucapan itu menjadi penawar hati sang tamu yang sangat menggembirakan dan melegakan hatinya. Ia pasti akan diterima dengan senang hatidan dengan kedua belah tangan yang terbuka lebar-lebar! Ia yakin akan mendapat idzin untuk bermalam di rumah petani itu.
Seketika tuan rumah itu hampir ke pintu, seraya sang tamu berdiri menyambutnya. Keduanya berjabat tangan dengan akrabnya bagaikan dua sahabat karib yang telah lama berpisah. Tak ada sedikitpun tampak kekakuan dan kecanggungan di antara keduanya.
Adzan terdengar bergema ke seluruh kampung hingga bukit-bukit sekelilingnya, menandakan waktu shalat maghrib telah tiba.
Sang ayah beserta tamu dan puterinya shalat berjama’ah. Dan kemudian sehabis mereka shalat, terdengarlah bacaan Al-Quran. Ayat-ayatnya yang terdengar jelas menggugah hati, meyakinkan diri sebagai hamba Allah. Menyatakan akan kesamaan derajat diri masing-masing di hadapannya, sekalipun ia itu seorang raja penuh kuasa. Hanya taqwa kepadaNya lahyang akan membedakan derajat kemuliaannya.
Manusia tetap manusia. Ia takkan lebih dari seorang manusia, makhluq Tuhan yang berada di bawah kuasaNya. Tapi, sering manusia lupa, bahwa dirinya ialah makhluq yang mesti mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya. Jika ia hidup sebagai penegak hukum kadang-kadang ia lupa bahwa ia berkewajiban dan beranggung jawab dalam menjaga serta memelihara hukum agar berlaku dan dipenuhi dengan tertib serta meyakinkan orang akan adanya kepastian hukum.

bersambung  ke bagian 2.

Post a Comment