Tentu saja Bismillahirrahmanirrahiem bukanlah kalimat yang asing bagi kita semua. Ia sering dikenal dengan nama kalimat basmallah. Orang-orang menobatkan kalimat ini sebagai doa yang mesti diucapkan sebelum melakukan pekerjaan apapun. Namun sudahkah kita mengetahui apakah makna kalimat ini sebenarnya?
Dengan ketinggian bahasa yang digunakan Allah dalam Al-Quran, dari kalimat yang tersusun dari 19 huruf ini dapat mengungkap sejuta makna jika kita perdalam lagi apa yang tersembunyi di balik kalimat ini.
بسم
Kalimat al-ismu dalam bahasa arab berarti kata yang menunjukkan pada suatu zat, seperti muhammad, manusia, dan lain sebagainya. Atau bisa juga menunjukkan kepada sesuatu yang bermakna, misalnya ilmu, adab dan lain sebagainya.
Allah s.w.t. telah memerintahkan kepada kita agar menyebut namanya serta nmensucikannya dalam firman Allah berikut ini:
فَإِذَا قَضَيْتُمْ اِلَى الصَّلَاةِ فَاذْكُرُ اللهَ قِيَامًا وَ عَلَى جُنُوْبِكُمْ (النساء: 103)
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu kamu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring..” (An-Nisa:103)
وَ اذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَ تَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلًا (المزمل: 8)
“Sebutlah nama tuhanmu dan beribadahlah kepadanya dengan penuh ketekunan”. (Al-Muzammil: 8)
وَ اذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَ اَصِيْلًا (الانسان: 25)
“Dan sebutlah nama tuhanmu pada waktu pagi dan petang”. ( Al-insan: 25)
Berdasarkan pengertian ayat-ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa di dalam menyebut nama Allah diharuskan adanya keterlibatan hati dan lisan, dalam rangka mengingat keagungan dan kebesaran Allah serta nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya. Dengan kita menyebut nama Allah dengan lisan berarti mengucapkan “Asma’ul Husna”, sekaligus memuji dan menyatakan rasa syukur kepada Allah. Juga berarti memohon pertolongan kepada Allah agar memberi kekuatan untuk melaksanakan perbuatan sesuai dengan ketentuan syariah. Sebab seluruh perbuatan yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah, berarti tidak diakui syariat.
Sabda Rasul,
كُلُّ اَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لَمْ يُبْدَأُ بِبِسْمِ اللهِ فَهُوَ اَبْتَرُ
“setiap pekerjaan yang baik yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah, maka pekerjaan itu terputus (tidak sempurna)”.
الله
Adalah isim ‘alam, khusus ditujukan kepada yang wajib disembah secara benar. Nama ini tidak boleh digunakan untuk selain Allah.
Pada masa jahiliyyah, jika bangsa Arab ditanya mengenai siapakah yang menciptakan bumi dan langit, mereka menjawab Allah.
Firman Allah,
وَ لَإِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَ سَخَّرَ الشَّمْسَ وَ الْقَمَرَ لَيَقُوْلُوْنَ اللهُ (العنكبوت:61)
“Dan jika engkau bertanya kepada mereka , “siapakah yang menciptakan bumi dan langit dan menundukkan matahri dan bulan?” pasti mereka menjawab “Allah”...” (Al-Ankabut:61)
Dan jika mereka ditanya apakah “tuhan” Latta dan ‘Uzza dapat menciptakan sesuatu seperti Allah, mereka akan menjawab tidak.
Kata Ilah, adlah isim yang ditujukan setiap yang disembah, naik haq maupun bathil. Kemudian kata ini banyak digunakan untuk sesembahan yang haq.
الرحمن الرحيم
Dua kata ini berasal dari kata Rahman: artinya suatu gejolak jiwa yang penuh dengan perasaan kasih sayang terhadap lainnya. Kemudian kata ini dipakai untuk Allah. Maka Allah bersifat Rahman Rahim.
Kata Rahman, pengertiannya menunjukkan kepada zat yang menunjukkan bukti-bukti Rahmah, berupa kenikmatan-kenikmatan dan kebajikan-kebajikan. Sedang kata Rahim, menunjukkan sumber Rahmah, dan kata Rahim menunjukkan sifat yang tetap ada pada Allah.
Apabila Allah disifati dengan sifat Rahman, hal ini dipaham secara bahasa bahwa Allah itu pemberi kenikmatan, tetapi sifat rahman ini tidak bisa dipaham wajib bagi Allah untuk selamanya. Tetapi jika setelah sifat rahman itu Allah disifati dengan sifat Rahim, maka dapat diketahui bahwa Allah mempunyai sifat yang tetap dan selamanya, yakni Rahim. Sebagai bukti adalah kasih sayang yang berlaku selama-lamanya. Kedua sifat ini pun mempunyai pengertian lain dengan yang dinisbatkan kepada makhluk.
Dengan demikian, menuturkan kata Rahim setelah kata Rahman merupakan bukti bahwa Alah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada seluruh hamba secara tetap. Hal ini pun dapat diketahui berdasarkan susunan bahasa yang menunjukkan dawam (tetap) dan istimrar (terus-menerus).
Allah swt. memulai firman di dalam kitabnya dengan menyebut nama-Nya dengan kata-kata Bismillah yang memberikan petunjuk kepada hamba-hamba-Nya agar membuka seluruh pekerjaan dengan membaca Bismillah.
Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa,
كُلُّ اَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لَمْ يُبْدَأُ بِبِسْمِ اللهِ فَهُوَ اَبْتَرُ
“setiap pekerjaan yang baik yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah, maka pekerjaan itu terputus (tidak sempurna)”.
Jadi makna Bismillah itu ialah, “Saya memulai pekerjaan dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (Bismillahirrahmanirrahiem). Saya mengerjakan pekerjaan ini karena perintah Allah dan untuk Allah, bukan untuk diriku atau kepentingan nafsuku”.
Bisa juga diartikan bahwa kekuatan yang ada pada diriku untuk melakukan perbuatan itu adalah dari Allah. Jika tidak ada Allah, maka tak ada kekuatan pada diriku, bahkan saya pun tak kan bisa berbuat apa pun. Saya tidak akan melakukan perbuatan di atas nama diriku. Tetapi saya akan memulainya dengan menyebut nama Allah. Sebab saya senantiasa memohon kekuatan hanya kepada Allah, maka mustahil aku bisa melakukan perbuatan ini. Dengan demikian makna bacaan Basmallah yang ada pada awal Al-Quran, mencakup seluruh isi Al-Quran berupa hukum, syari’at, akhlaq, pendidikan dan nasihat, adalah demi Allah dan dari Allah, serta siapa pun tidak boleh ikut di dalamnya.
Jadi seolah-olah Allah berfirman kepada Nabi Muhammad SAW. Hai Muhammad! Bacalah surat ini dengan menyebut Bismillahirrahmanirrahim dengan kata lain, “Bacalah surat ini atas perintah Allah, bukan kemauanmu sendiri. Sebab, Allah menurunkan Al-Quran kepadamu untuk memberi petunjuk kepada semua orang, dengan Al-Quran yang di dalamnya mengandung kebaikan yang akan mengantarkan mereka kepada kebahagiaan di dunia dan akherat.
Demikian begitu tinggi makna yang terkandung di balik kalimat ini yang telah Allah wahyukan dalam Al-Quran sebagai pedoman pertama bagi umat Islam dalam seluruh aspek kehidupannya.
Maka saya pun ucapkan
بـِـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــسْمِ اللَّـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــهِ الــــــــــــــــــــــــرَّحْـــــــــــــــــــــــــمَنِ الـــــــــــــــــــــــــرَّحِيْــــــــــــــــــــــمِ
Semoga blog saya ini dapat bermanfa’at bagi semuanya. Semoga menjadi ‘ilmu yuntafa’u bihi serta menjadi jariyah yang ganjarannya tiada berhenti mengalir..
Amien..
____________
____________
Referensi
Terjemah Tafsir Al-Maraghi jilid 1


Post a Comment